Thursday, April 14, 2011

miss you mom...


Bulan April ini seharusnya adalah bulan dimana mamaku berulang tahun. Namun Alloh swt berkehendak lain, hampir dua tahun telah berlalu mamaku dipanggil oleh-Nya. Teringat kenangan bersamanya melewati suka dan duka, I really miss you mom.. hanya doa yang dapat ku panjatkan...

Ya Alloh, Ya Rabb ampuni segala dosa mamaku, senantiasa rahmatilah dirinya, muliakanlah kedudukannya, lapangkanlah kuburnya dan masukkan dirinya bersama orang-orang shaleh di surga-Mu. 

Buat rekan-rekan yang masih memiliki orang tua, berbaktilah kepada mereka karena  berbakti kepada orang tua menempati posisi yang tinggi di dalam islam. Hal itu ditunjukkan dengan perintah berbuat baik kepadanya mengikuti perintah beribadah hanya kepada Allah swt saja, seperti disebutkan didalam firman-Nya.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra : 23)

Buat rekan-rekan yang sudah tidak memiliki ibu/ayah atau keduanya, jangan lupa untuk berbuat baik pula kepada mereka. Berbuat baik kepada orang tua tidak hanya dilakukan ketika dia masih hidup akan tetapi juga setelah dia meninggal dunia.Beberapa perbuatan baik yang bisa dilakukan terhadap orang tua yang telah meninggal dunia, diantaranya :

1. Mendoakan dan memohonkan ampunan baginya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah 'azza wajalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, hamba itu kemudian berkata; 'Wahai Rabb, dari mana semua ini? ' maka Allah berfirman; 'Dari istighfar anakmu.'"
Diantara bentuk-bentuk doa dan permohonan ampunan tersebut adalah :

 رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
Artinya : “Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku.” (QS. Nuh : 28)


وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya : “Dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al Isra : 24)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari dari Jubair bin Nufair ia mendengarnya berkata, saya mendengar Auf bin Malik berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menshalatkan jenazah, dan saya hafal do'a yang beliau ucapkan:
"ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA 'AAFIHI WA'FU 'ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI' MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A'IDZHU MIN 'ADZAABIL QABRI AU MIN 'ADZAABIN NAAR
(Artinya: Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya di dunia dengan rumah yang lebih baik di akhirat serta gantilah keluarganya di dunia dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka)." Hingga saya berangan seandainya saya saja yang menjadi mayit itu.

2. Melaksanakan wasiatnya

Melaksanakan wasiatnya selama wasiat tersebut tidak memerintahkan kemaksiatan terhadap Allah swt dan tidak bertentangan dengan hukum syariat, sebagaimana firman Allah swt :
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Artinya : “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqoroh : 180)

Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Mendengar dan taat adalah haq (kewajiban) selama tidak diperintah berbuat maksiat. Apabila diperintah berbuat maksiat maka tidak ada (kewajiban) untuk mendengar dan taat".

3. Menghubungkan tali silaturahim orang tua anda 

Menghubungkan tali silaturahim orang tua andayang telah meninggal serta berbuat baik kepada teman-teman dan kerabatnya. Imam Muslim meriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kebajikan yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya." Didalam hadits ini terdapat keutamaan menghubungkan silaturahim kawan-kawan ayah yang telah meninggal, berbuat baik dan memuliakan mereka.

4. Bersedekah atas namanya

Kaum muslimin telah bersepakat bahwa sedekah mengatasnamakan orang yang sudah meninggal maka hal itu akan sampai kepadanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dari 'Aisyah bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bersedekah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bersedekah untuknya (atas namanya)?". Beliau menjawab: "Ya, benar".

Walahu A’lam

sumber: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/doa-untuk-orang-tua-yg-sdh-meninggal.htm











Jihad cari uang dan orang...


http://www.detiknews.com/read/2011/04/13/153634/1615611/10/jihad-di-nii-cari-uang-dan-orang

Setelah membaca artikel di atas, jadi pengen berbagi pengalaman soal nii...

Aku bersinggungan dengan nii ketika masih di semester I atau II saat kuliah di D3 STAN. Berawal dari perkenalan dengan seorang pemuda (sebut aja mas X) di sebuah Masjid yang mengajak diskusi soal agama. Singkat cerita, dia mengajakku untuk mengikuti pengajiannya sekalian promosi nambah teman dan wawasan. Aku pun mengiyakan bersedia mengikuti pengajiannya  serta menentukan kapan bisa datang ke pengajiannya.

Pertama kali datang ke pengajiannya sedikit bingung karena tempatnya bukan di masjid atau mushola tetapi di rumah petakan (kontrakan). Masuk ke dalam rumah tersebut ternyata sudah ada banyak remaja yang hadir mendengarkan pengajian. Ternyata di sana dibedakan menjadi dua kelompok, kelompok  yang bagi orang yang pertama kali dan kelompok bagi orang yang sudah beberapa kali gabung ke pengajian tersebut.

Pada saat pertama kali pengajian, kita akan digali seberapa dalam pemahaman kita soal agama. Setelah itu pemahaman kita selama ini akan digoyahkan oleh pemberi materi sehingga kita akan berada dalam kondisi kebingungan. Konsep ketuhanan, jihad dan bernegara menurut mereka akan disodorkan kepada kita dengan diberikan ayat-ayat al quran sebagai pendukungnya. Pada akhirnya mereka menyampaikan tujuan mereka adalah membentuk negara islam indonesia dan untuk itu kita yang baru harus mau berhijrah dari "mekkah" ke "madinah". Karena rasa ingin tahu yang besar apa dan bagaimana kelompok ini, aku masih beberapa kali mendatangi pengajian ini.

Pada pertemuan2 selanjutnya, aku baru merasakan keanehan dalam penyampaian materi. Aku ga pernah sepaham dengan pemaparan pemberi materi dalam menafsirkan ayat2 al quran tertentu. Sampai pada akhirnya, pemberi materi bilang, "kamu ibarat gelas, kamu adalah gelas yang sudah ada isinya, bagaimana saya bisa mengisi gelas itu dengan materi saya. Untuk itu, kamu perlu menumpahkan isi gelas kamu dulu, baru kamu bisa menerima materi saya." Itu yang ga bisa dilakukan dan belakangan aku menyadari bahwa pertemuan2 itu merupakan proses doktrinisasi atau brainwash sehingga  remaja yang mudah diarahkan pemikirannya menjadi terpola sesuai yang diinginkan kelompok tersebut.

Sesuai apa yang dikatakan pak Sukanto dalam artikel pada link di atas, memang kelompok ini mewajibkan untuk menyumbangkan sejumlah uang setiap datang ke pertemuan dan mengajak orang untuk ikut kelompok ini.  Berhubung bukan dari kalangan mampu, setiap diminta sumbangan uang aku cuma bisa nembak aja, ntar besok hehehe tapi untuk beberapa remaja sumbangan ini dijadikan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi sehingga mereka kadang harus mencuri uang/barang dari orang tuanya. Hal ini aku ketahui setelah mendapat info dari ibuku yang kebetulan punya teman yang anaknya juga masuk kelompok ini.

Aku juga pernah ngajak teman2 datang ke pertemuan kelompok ini. Tetapi sebelum mereka masuk ke dalam pertemuan, aku sudah menyampaikan apa dan bagaimana kelompok ini. Mungkin karena sama dengan aku dulu, didasari rasa ingin tahu mengenai kelompok ini, teman2ku bersedia ikut mendatangi kelompok ini. Setelah pertemuan, mereka biasanya ngomong, "gw ga mau datang lagi ah, gw takut pin" trus bertanya "kenapa loe masih gabung pin?" aku jawab "gw pengen tau lebih dalam, ntar kalo menyimpang banget, gw pasti keluar lah"

Karena aku sudah beberapa kali datang ke pertemuan, pemimpin kelompokku meminta aku untuk ikut prosesi bai'at dengan membayar sejumlah uang sebagai bukti jihad (lagi2 soal uang). Karena ingin tahu apa itu prosesi bai'at, aku bersedia mengikuti prosesi bai'at tersebut yang membutuhkan waktu menginap semalam. Ternyata prosesinya bersifat sangat rahasia, untuk menuju tempat bai'at, aku harus berpindah-pindah tempat dan berganti kendaraan serta pada akhirnya mataku harus ditutup dengan kain pada saat naik kendaraan terakhir menuju tempat bai'at.

Di tempat bai'at ternyata sudah berkumpul banyak orang, baik remaja maupun orang tua Dari pembicaraan dengan mereka sepertinya mereka sudah terdoktrinisasi. Mereka merasa begitu eksklusif dan merasa benar telah masuk kelompok ini. Dan aku merasa seperti james bond, agen rahasia, yang tengah menyelidiki sesuatu. Memang benar penyataan pak Sukanto, kalo kelompok ini punya jenjang kepangkatan dari lingkup RT sampai dengan level pimpinan tertinggi.

Setelah prosesi bai'at itu, seperti keingintahuanku telah terpenuhi jadi dah ga semangat untuk datang ke pertemuan. Akhirnya aku menemui penyimpangan yang baru aku ketahui selama bergabung dengan kelompok ini. Penyimpangan ini membuatku meninggalkan kelompok ini adalah ketika mereka menyatakan bahwa saat ini adalah masa-masa darurat atau masih dalam kondisi jahiliyah sehingga sholat 5 waktu itu tidak wajib bahkan mereka menghalalkan mengambil harta orang lain yang bukan dari kelompok mereka.

Aku ga setuju dengan mereka dan akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi dengan kiayi masjid dekat rumah. Setelah berkonsultasi dengan kiyai yang aku percaya, beliau menyampaikan bahwa "apabila kelompok pengajian boleh mempunyai tujuan menjalankan seluruh syariat islam di negara kita, itu bagus, tetapi kalau sudah meninggalkan sholat 5 waktu, itu sudah ga benar sebaiknya kamu tinggalkan aja" aku memutuskan tidak lagi mendatangi pertemuan kelompok itu.

Mengetahui aku tidak pernah datang lagi ke pertemuan, mas X terus mendatangi rumahku bersama dengan temannya yang berbeda-beda untuk membujukku kembali datang ke pertemuan. Mereka ingin mengetahui kenapa aku tidak pernah datang lagi dan mengajak diskusi apabila ada hal-hal apa yang membuatku tidak datang lagi. Setiap mereka datang, pada akhirnya aku bilang, "aku ga mau mutusin silahturahim antara kita, kalo mas2 datang ke rumah ini, saya sambut sebagai tamu, tetapi kalo mas2 minta aku datang lagi ke sana, aku minta maaf aku ga bisa."

Mereka ga puas dengan jawabanku dan tetap memaksa untuk datang ke pertemuan. Tanpa sepengetahuanku, ternyata selama ini ibuku selalu mendengarkan pembicaraan kita dan akhirnya ibu keluar dan berbicara dengan mas X dan temannya. Ibuku meminta supaya mereka tidak mengganggu aku lagi dan apabila datang lagi, ibuku akan melaporkan mereka kepada pak RT. Sejak itu mereka tidak pernah datang lagi.  

Pesan moral:

  1. Hati-hati terhadap sesuatu pemikiran yang berbeda atau baru dan jangan mudah begitu saja percaya.
  2. Jangan takut berkonsultasi dengan orang tua atau orang lain untuk mengetahui pendapat mereka.
  3. Banyak baca dan banyak berteman sehingga kita punya wawasan yang luas sehingga dapat melihat sesuatu dari berbagai perspektif.









Monday, April 11, 2011

loper koran..

Hari ini emang berencana ke kantor mau bawa mobil biar ga kehujanan (pagi2 dah mendung). Di perempatan harmoni karena lampu merah, mobilku pun harus berhenti. Saat itu mataku mencari-cari loper koran langgananku untuk membeli koran. Pak loper koran ini sudah tua tapi masih mau berusaha, berbeda dengan orang muda tetapi pengemis (emang sih cacat tapi aku pikir dia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dari sekedar menjadi pengemis). 

Dengan melambaikan tangan aku memanggil  pak loper koran itu dan si bapak pun segera menghampiriku. Terlihat wajah ceria dan senyumannya ketika aku membayar korannya. Aku bisa memahami ekspresi senangnya pak loper koran itu, karena aku pun pernah menjadi loper koran. Senang dan puas kalo koran yang kita bawa bisa laku semua dibeli oleh pelanggan.

Berawal dari liburan sekolah naik2kan ke kelas 6 SD, aku diajak ama teman2 untuk menjual koran (loper koran) ngisi masa2 liburan. Hari masih pagi kita sudah bangun berangkat ke rumah agen koran. Si agen koran juga mengerti kalo kita ini loper koran dadakan jadi ga dikasih banyak2 korannya. Kita jualannya bareng2 mulu ngiterin perumahan dan komplek sambil teriak "korrraannnn kooorrraaannnn...poskota, kompas...sinar pagi" (dulu koran yang paling banyak laku poskota karena murah atau karena ada kolom "nah ini dia" :P ). Waktu itu paling sebel kalo lewat perumahan yang banyak anjingnya... masih jauh aja dia dah ngegonggong trus berlari mendekat..kalo dah gitu kaburrrrrr.... kadang klo kepepet bareng2 jongkok ambil batu, biasanya tuh anjing balik badan hehehe

Masa liburan dah selesai, teman2ku berhenti jadi loper koran sementara aku masih berjualan karena waktu itu sekolahku masuk siang dan sudah memiliki beberapa pelanggan setia. Waktu itu lumayan hasil jadi loper koran buat bantu2 nyokap (mama) bayaran atau sekedar nambah uang jajan. Saat masuk SMP kelas 2, aku berhenti jadi loper koran karena waktu itu masuk sekolahnya pagi.

Lampu merah sudah berganti hijau, mobil pun kulaju kembali... ku lihat bapak loper koran itu bergegas ke sisi jalan. Sampai jumpa lagi pak tua, semoga Alloh memudahkan urusanmu dan memurahkan rejekimu...

Saturday, April 9, 2011

Semua itu Baik...

buka milis daarut-tauhid, dapat postingan yang dikirim oleh Sdr. Tigor Lihu dan kayaknya bagus buat di-sharing lebih lanjut...

Semua  itu Baik, Insya Allah...



Kisah...


Ada seorang raja yang setiap pergi berburu selalu ditemani oleh seorang sahabatnya yang terkenal dengan ketaqwaan wiridnya. Tiap kali raja menemui sesuatu yg tidak mengenakkan, sahabatnya selalu berkata, "Semoga itu baik, insya Allah."  Kata-kata ini selalu diulangi pada setiap kejadian yg secara dhahir adalah kejadian buruk. Pada suatu hari saat sang raja berburu bersama sahabatnya ditemani oleh pengawalnya, jari raja terkena tombak terpotong. Darah pun mengucur. Si sahabat berkata, "Semoga itu baik, insya Allah."

Raja marah memerintahkan pengawalnya utk memenjarakannya. Saat pengawal ditanya, "Apa yg dikatakannya saat kalian menutup pintu penjara?"  Pengawal menjawab, "Ia hanya mengatakan, Semoga ini baik, insya Allah"



Suatu ketika saat raja pergi berburu tanpa ditemani oleh sahabatnya, ia tersesat di hutan. Sedangkan di hutan tersebut terdapat suku yg menyembah berhala tiap tahun mengorbankan org kpd berhalanya tersebut. Raja pun ditangkap oleh suku tersebut.  Namun, saat diperiksa didapati bahwa jari raja tdk lengkap. Mereka pun menolak mengorbankannya, karena korban harus dlm kondisi yg sempurna. Raja lalu dilepas dan d ia kembali ke istana.


Akhirnya dia menyadari kebenaran ucapan sahabatnya. Sahabatnya pun dikeluarkan dari penjara. Raja bertanya, "Ketika engkau mengatakan, Semoga itu baik, insya Allah."  Saat jariku terpotong, aku menyadari bahwa kebaikan itu adalah aku tidak jadi disembelih untuk berhala karena fisikku tdk sempurna.  Sekarang saat engkau dipenjara, apakah kebaikan itu?" Ia mjawab, "Andaikata saat itu saya bersamamu, maka mereka akan menyembelih saya sebagai penggantimu"

Pesan moral:

Jika anda mendapat kejadian buruk ucapkan:  "Semoga ini baik, insya Allah."  Semoga ALLAH SWT memberi kebaikan pada kehidupan Anda. 


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
 (QS.Al-Baqarah:216)

Semoga bermanfaat..

Berenang yukkk...

Berhubung waktu kecil tinggal di pemukiman langganan banjir, maka bermain banjir-banjiran (main air banjir) merupakan suatu kesenangan kalo musim hujan datang. Bermodal ban bekas atau gedebong (batang) pohon pisang berenang mengelilingi pemukiman. Kalo musim libur, karena ikut teman2 nekat lompat pagar komplek DPR trus pagar Taman Ria Senayan cuma mau mancing atau berenang di danaunya. Dasar anak2 justru momen yang seru itu ketika satpam Taman Ria datang pake motor boat mau nangkepin kita... kaburrrrrr yang lagi asik berenang atau mancing berhamburan melompati pagar keluar dari komplek Taman Ria dan DPR... pernah kita ketawa ngakak karena ada teman yang sedang berenang dan pak Satpam datang, dia kabur meninggalkan baju dan celananya. Mau balik lagi, ternyata dari jauh kita melihat baju dan celananya dibuang ke danau ama pak Satpam (hahaha dia hampir pulang telanjang kalo ga dipinjemin teman yang pake celana dua)... 

Satu peristiwa yang ga mungkin terlupakan di sana adalah ketika aku pernah hampir tewas karena tenggelam tetapi beruntung ada teman yang dapat menolong. Gara2 peristiwa itu, sempat takut kalo masuk kolam renang pas pelajaran berenang di kelas 6 SD (bahasa kerennya trauma ya). Beruntung punya teman yang jago berenang, sedikit2 ngajarin aku "ngetrap" (gaya supaya bisa ngambang di kolam). Sayang umur temanku itu ga panjang, dia meninggal dunia karena tewas tenggelam di kali (sungai kecil) dekat rumah dan di depan mataku sendiri. Saat itu kali sedang meluap (banjir) dan aku sedang berada melintas di Jembatan, dia berteriak2 memanggil namaku sambil berenang dengan memegang gabus besar. 

Dia melintas di bawah jembatan trus melambaikan tangannya sambil tertawa (dalam hati berkata gila nih teman dah berani berenang di kali). Namun sekitar 200 m dari jembatan tiba2 arus air berputar membuatnya tenggelam (terakhir terlihat hanya tangannya menjulur ke atas) dan tidak muncul kembali ke permukaan. Aku cuma bisa berteriak minta tolong orang2 terdekat karena aku belum pernah dan berani berenang di kali saat itu. Bahkan sekarang pun kalo bukan keadaan terpaksa ga bakal mau berenang di kali. 3 hari kemudian jasadnya baru diketemukan, selamat jalan teman...

Sekarang pengen ian bisa berenang, tidak perlu mahir menguasai berbagai macam gaya tetapi cukup buat bisa   berenang dan tidak tenggelam di air yang dalam. Awalnya ian takut masuk kolam, tetapi setelah dibujuk akhirnya dia mau masuk kolam. Ga butuh waktu lama untuk ian menyukai dan bermain air, karena kebetulan di kolam Duta Bintaro ada beberapa seluncuran (perosotan) membuatnya ketagihan. Saat ini buat ian senang bermain air dulu, nanti baru diajarin gaya renang supaya tidak tenggelam di tempat dalam. 

So kalo sempat sabtu atau minggu ngajak ian, Berenang yukkkk...


Friday, April 8, 2011

Aku si kutu loncat...






Deg deg deg jantung ini berbunyi saat menerima amplop putih berisi salinan SK penempatan dari Bagian SDM, BPLK Jakarta (1999). Sembari berdoa semoga ga ditempatkan di luar Jawa biarlah di luar Jakarta asal masih di pulau Jawa, dibukalah amplop putih tersebut. Alhamdulillah, ternyata penempatanku pertama di Balai Diklat VII Cirebon (selamat dari mengarungi lautan). Sebagai anak rumahan yang dari SD ampe SLTA, ke sekolah aja jalan kaki karena dekat dan belum pernah berhari2 meninggalkan rumah, mau berangkat ke Cirebon kayaknya berat banget... mungkin cirebon merupakan my first stepping stone menuju kesuksesan hahaha

Berangkat dari  Stasiun Gambir dengan Cirebon Ekspress akhirnya sampai ke Stasiun Cirebon...Selamat Datang Aripin di Kota Cirebon dalam hati...  kemudian dilanjut dengan becak dari stasiun Cirebon ke kantor BDK VII. Bersyukur banget ternyata di BDK VII ada asrama yang boleh ditempatin ama para pegawainya, jadi setelah lapor ke boss langsung dikasih kamar. 

Waktu pertama masuk kantor ga terlalu banyak kegiatan, untung di pertengahan tahun BDK VII diminta ngurusin 3 kelas Diploma I jadi mulai ada kesibukan.... kalo ga ada kelas D I itu bisa stress juga jauh2 penempatan banyak bengong nunggu jadwal kegiatan pelatihan mulai (kayaknya dulu cuma satu diklat setiap bulannya dan pelatihannya paling lama seminggu)... Kota kecil itu meskipun panas dan cuma ada 1 mall doang (grage mall) setidaknya memberikan kenangan manis dan lucu...sekarang BDK VII Cirebon dah ga ada lagi... it becomes history now...

Berhubung Tahun 2000 BDK VII ekspansi (dapat gedung baru) di Cimahi dan cuma aku dan temanku yang muda serta bujangan, jadi kita berdua langsung dikirim ke Cimahi buat persiapan pembukaan kantor cabang BDK VII.  Berbeda dengan Cirebon yang panas, hawa kota Cimahi Bandung relatif dingin dan ramai serta lebih dekat dengan Bandung dan Jakarta (gampang pulang kota  hehehe). Soal pekerjaan di sini juga relatif sama dengan waktu di Cirebon dan juga memberikan kenangan manis untuk dikenang...

Horeee tahun 2000 dah bisa daftar masuk Diploma IV dan bisa balik ke Jakarta lagi nih kalo diterima masuk pendidikan D IV. Sebelum ujian masuk, setiap ada kesempatan digunakan buat ngerjain soal-soal test masuk DIV tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah, berkat doa orang tua dan belajar soal-soal tersebut, aku diterima masuk D IV...back to Jakarta yessssssss I luv Jakarta ... Setelah dua tahun berkutat dengan buku dan bermain-main di perpustakaan, akhirnya tahun 2002 lulus DIV dan balik ke BPLK Jakarta menunggu penempatan ulang...

Untuk penempatan ulang, aku beruntung kali ini karena penempatanku adalah kampus jurangmangu dan di unit yang bossnya adalah bossku dulu yang di BDK Cirebon (dunia emang sempit). Di sini lebih banyak kegiatan dari tempat kerja terdahulu, ngurus administasi mahasiswa D IV, diminta ngajar, membimbing dan  menguji mahasiswa  D I dan D III, diminta bantuan untuk proyek2 diluar kantor oleh dosen senior (buat sistem dan SOP kantor orang). Genap 2 tahun bekerja di kampus, datang penawaran pindah ke DJLK di Lapangan Banteng. 

Waktu itu cuma 3 orang yang berminat pindah dari kampus ke DJLK termasuk aku, dan ketiganya diterima setelah diwawancarai. Akhirnya Tahun 2004 resmi bekerja sebagai pegawai  DJLK tepatnya di unit khusus yang namanya Monitoring Unit (MU) di bawah Sekretariat Ditjen. Di tempat baru ini berasa dekat dengan orang-orang penting dan punya temen bule dalam satu ruangan (di awal-awal susah banget nangkep temen bule ini ngomong).  Di sini jadi tahu betapa sulitnya menset-up dua orang pejabat tinggi untuk bertemu/rapat. Yang menyenangkan di sini bisa muter2 keliling nusantara plus Shanghai dan Singapura karena ada tugas yang memungkinkan untuk dinas luar (DL) dan ikut workshop.

Tahun 2006 terjadi reorganisasi di Depkeu, salah satunya merger antara Bapepam dengan DJLK menjadi Bapepam-LK. Unit MU pun akhirnya bubar dan aku dipindah ke Bagian Perencanaan Organisasi (PO), Sekretariat Badan. Di Bagian PO diminta membantu Mrs. M dalam menyusun LAKIP dan Renstra Bapepam-LK. Aku merasa kami memiliki kerjasama yang sangat baik meskipun hanya dalam waktu 7 bulan. Setelah itu mesti meninggalkan PO karena di bulan April 2007, dipindah lagi dari Sekretariat Badan ke Biro yang baru dibentuk, yaitu Biro Kepatuhan Internal sampai sekarang (the recent stepping stone and hope it's not the last). 

Sekarang si kutu loncat mau loncat kemana lagi ya....

My first abroad in 2005...

Bingung waktu pertama dapat disposisi surat undangan workshop di Shanghai National Accounting Institute (SNAI), yang isinya "selesaikan", trus tanya senior mereka bilang maksudnya kamu proses biar kamu yang berangkat ke workshop tersebut...(oh gitu hehehe ke luar negeri nih). Setelah dapat penjelasan itu, senang banget tapi pas baca isi suratnya gubraakkkk ternyata masa pendaftarannya dah lewat meskipun waktu pelaksanaannya belum ... :(  thanks to my senior yang ngasih saran email langsung aja ke pihak penyelenggara untuk bertanya masih bisa kah?? Alhamdulillah, dapat signal positif dari pihak penyelenggara dan kemudian ngurus keperluan administratifnya  berjalan lancar... akhirnya dapat tiket plus passpor biru...

Berhubung dapat info kalo SNAI itu jauh dari Bandara Pudong, Shanghai dan kebetulan cuma berangkat sendiri, jadi worry juga nih. Alhamdulillah, punya temen bule di ruangan yang punya koneksi luas, dia bersedia bantu dan akhirnya dia bilang bakal ada yang jemput di Bandara Shanghai nantinya, dengan syarat teman bule minta dibeliin satu set stick golf dan untungnya dia ngasih duitnya plus uang jajan hehehe


Perjalanan Jakarta via Singapura ke Shanghai kira2 butuh waktu 4 atau 6 jam ya (lupa) pake pesawat Singapur Airlines (SQ). Berkesan banget pas transit di Bandara Changi, Singapura, bagus banget bro berasa beda lah ama punya kita di cengkareng. Sayang di bandara Changi ga bisa jalan2 karena pas turun pesawat dari Jakarta dah ada petugas yang nunggu bilang untuk penumpang ke Shanghai harus segera naik pesawat lain.




Sepanjang perjalanan dari Singapura ke Changi asik nonton film sekali-kali menengok ke Jendela memandangi indahnya langit ciptaan Tuhan :)





Akhirnya sampai juga di Bandara Internasional Pudong, Shanghai...karena baru pertama kali menginjakan kaki di sini wajar dong kalo kita lihat sana sini tapi ternyata itu membuat petugas sana curiga. Dengan wajah dingin petugas minta tasku discan lagi, trus minta passpor lagi dan nanya ada keperluan apa di Shanghai  (untung in english klo dia ngomong in mandarin bakal cuma bisa bengong). Untung english aku ga jelek2 banget, lega rasanya bisa lepas dari petugas itu, mungkin kebanyakan nonton film spionase kale ya jadi kuatir ditangkep disangka agen rahasia hehehe


Keluar bandara Pudong, tersenyum melihat nama terpampang di antara para penjemput hehehe berasa orang penting... ternyata yang jemput orang Indonesia keturunan yang kerja di Shanghai, jadi asik bisa tanya-tanya pake bahasa sendiri. Sebelum ke SNAI, saya diajak mampir ke supermarket untuk belanja keperluan di sana dan  dikasih tau makanan mana yang boleh dimakan (halal) mana yang ga boleh (ingredients double "B")... baik banget nih bapak. Butuh waktu sekitar dua jam lebih dari Bandara ke SNAI karena memang lokasinya di luar kota Shanghai.

Pihak penyelenggara worksop benar-benar memahami kebutuhan peserta diluar materi workshop dan pembicaranya. Panitia juga menyediakan makanan yang dipisahkan antar yang muslim dan non muslim, menyediakan transportasi ke pusat kota selesai acara workshop, dan terakhir diajak makan bareng2 di restoran terkenal di Shanghai dan itu pun dipisahkan antara muslim dan non muslim (banyak photo2 orang penting di dunia).

Shanghai surganya barang2 mirip asli tapi murah (barang kw nih), sempat mampir di pusat belanja kaki limanya sana, belum sampe gerbangnya dah diserbu ama "marketingnya" dengan membawa katalog tas, jam, kacamata. Sesuai pesanan mesti cari stik golf buat temen bule dan suvenir buat teman2 kantor (standar lah gantungan kunci hehehe) serta kaos buat orang rumah.

Waktu di sana sempat mampir juga ke Shanghai Urban Planning Exhibition Center liat bagaimana pemerintah sana buat miniatur kota Shanghai yang sudah jadi dan yang akan bakal dibangun selanjutnya... trus malam2 main ke Shanghai Bund, daerah wisata pinggir sungai, penuh dengan turis dan cahaya lampunya yang menarik. Surprise di sana ketemu orang Indonesia yang menyapa (katanya sih kerja di sana), dia tanya "kamu orang jakarta ya trus tanya lagi sampe kapan di Shanghai? sayang besok dah harus balik ke Jakarta, padahal dia katanya mau ngajak muter2 shanghai kalo mau extend stay... (pengen sih cuma budget ga memadai bro..)